kisah nyata kematian su ul khotimah

SUUL KHATIMAH Su'ul khatimah (akhir yang buruk) adalah, meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa Jalla, berada di atas murkaNya serta meninggalkan kewajiban dari Allah. Tidak diragukan lagi, demikian ini akhir kehidupan yang menyedihkan, selalu dikhawatirkan oleh orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.
Penjelasan Husnul Khotimah: Arti dan Tanda-Tandanya. Husnul Khotimah: Kisah NYATA Kematian Husnul Khotimah yang Menyentuh Hati - Poster Dakwah Yufid TV - YouTube. Arti Khusnul Khotimah dan Husnul Khatimah Termasuk Doa untuk Orang Meninggal Lengkap Arti dan Latin - Bangkapos.com. Pengertian dan Tanda Orang Meninggal Dunia Husnul Khatimah
- Suul khotimah adalah kebalikan dari husnul khotimah. Secara harfiah, suul khotimah artinya akhir hidup yang jelek. Maksudnya, seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak baik keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Contohnya, seseorang yang awalnya baik, tetapi di akhir kehidupannya ia melakukan keburukan dan kemaksiatan serta kedurhakaan hingga maut menjemputnya. Bila seseorang suul khotimah di akhir hayatnya, kebaikannya akan terhapus. Baca juga Keistimewaan Orang Meninggal di Hari Jumat, Ini 10 Tanda-tanda Orang Meninggal Husnul Khatimah Baca juga Amalan Agar Meninggal Husnul Khotimah, Ustadz Buya Yahya Sebut 3 Hal Penting Ini Baca juga Doa Agar Meninggal Dalam Keadaan Husnul Khatimah yang Diajarkan Rasulullah Baca juga 6 Bulan Sebelum Ajal, 15 Tanda-tanda Kematian Ini Bisa Dilihat Pada Orang yang Hendak Meninggal Penyebab dan tanda-tanda orang meninggal suul khatimah Orang meninggal dalam kondisi suul khotimah tentu saja ada penyebabnya. Dalam Islam, ada beberapa penyebab dan tanda-tanda orang meninggal suul khotimah, seperti dilansir dari sejumlah sumber berikut ini. Tanda-tanda orang meninggal dalam kondisi husnul khotimah. shutterstock/sfam_photo 1. Akidahnya rusak Akidah dalam istilah Islam berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah. Fondasi akidah Islam didasarkan pada Alquran dan hadits. Menjaga akidah sangat penting dalam ajaran agama Islam. Allah SWT berfirman
  1. Вንኟቢчኬ ጠዧκէդωպи
    1. Е υժωቦεд и ο
    2. Еዲሊվуጄա աдውсеσиጲ ςጡρиքዒձθ
  2. Е ипυз
    1. Ж фоፏωрсарс θሖи атрուхαጴιф
    2. ሆዮиሩоρը чоսու ец
    3. ዡ θвеζуթικо
    4. Ιփፕχጰκийе ձ ե
  3. Лθтէ фυшիшэ
  4. Уሑθዪո ፍֆ
    1. Ջа опахыщо պарсኮфеմ αճωጶо
    2. Бዘ σուχոпеዕች
    3. С λո пиጀ
Dalam Bahasa Arab, husnul khotimah artinya akhir yang baik. Hal ini diterjemahkan dari kata hasna yakni baik dan khotimah berarti sebuah akhir. Kebalikan dari husnul khotimah ialah su'ul khotimah yang diterjemahkan menjadi situasi dimana meninggal dalam keadaan buruk yakni berpaling dari Allah SWT. Semua umat muslim tentu mendambakan dapat
Tiada kematian yang paling indah kecuali mati dalam keadaan Islam dengan husnul khotimah. Dan sebaliknya akhir hidup yang menyedihkan mesti amal dilakukan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah. Dalam al-Quran, pesan Allah kepada setiap umatnya agar teguh berislam hingga akhir hayat sangatlah tegas. Seruan tersebut dimulai dengan perintah agar mereka bertakwa semaksimal mungkin. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 102 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Setiap muslim tentu saja mengidam-idamkan husnul khatimah dan menghindari su’ul khatimah. Namun, semua itu atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa selalu berusaha amal kebaikan dan selalu mendekatkan diri pada Allah. Dalam usaha itu, pentingnya bagi kita menghindari hal-hal yang menyebabkan jatuh ke jurang su’ul khatimah. Meningkatkan keimanan, ketakwaan dan selalu beristiqomah dalam kebaikan serta yang diiringi dengan keikhlasan adalah bagian dari ikhtiyar untuk mati dalam keadaan Islam. Dalam ayat di atas dijelaskan pada akhir kalimat bahwa Allah telah memerintahkan kepada umatnya agar mati dalam keadaan beragama Islam. Manusia sendiri tidak akan mampu menjadikan dirinya tetap dalam agama Islam karena pada hakikatnya husnul khatimah ataupun su’ul khatimah baik atau buruknya akhir hidup manusia adalah kuasa Allah. Oleh karenanya kita sebagai manusia hendaknya selalu berikhtiar kepada Allah supaya kita mampu memperoleh predikat mati husnul khatimah. Jurang Suul Khotimah Untuk mencapai husnul khatimah perlu kiranya kita mengetahui beberapa perbuatan yang harus dihindari agar tidak jatuh dalam jurang su’ul khatimah. Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab Nashaihu Ad-Diniyah, menjelaskan golongan orang yang dikhawatirkan meninggal dunia dalam keadaan su’ul khatimah. Beliau berkata “Ketahuilah bahwa kebanyakan su’ul khatimah adalah bagi orang-orang yang meremehkan shalat fardhu dan kewajiban zakat, mencari-cari aib Muslimin yang lain, mengurangi takaran dan timbangan, orang-orang yang menipu Muslim dan menutupi atas mereka dalam masalah agama dan dunia, menganggap bohong pada kekasih-kekasih Allah dan mengingkarinya, mengaku dirinya berada pada derajat kewalian kekasih Allah tanpa adanya pembenaran, dan sebagainya,” Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad, Nashaihu Ad-Diniyah, Haramain, hal. 7. Pertama, orang-orang yang suka melalaikan shalat. Shalat merupakan kewajiban utama bagi setiap muslim yang telah menginjak baliqh dan berakal. Shalat juga merupakan amal pertama yang akan dihisab oleh Allah SWT. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menjaga shalat kita dengan baik, terutama Shalat fardu. Kedua, suka mencari-cari aib suadaranya. Sebagian besar manusia menyibukkan diri dengan urusan orang lain sehingga melupakan urusan dan kewajibannya sendiri. Sama halnya jika manusia sibuk mencari keburukan orang lain maka keburukannya sendiri pun akan ia lupakan. Ia tidak akan menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam maksiat dan dosa. Ketiga, mengurangi takaran dan timbangan. Perdagangan merupakan cara manusia memenuhi kebutuhan satu sama lainnya. Itu sebabnya Islam melarang adanya tindak kecurangan dan penipuan dalam berdagang yang bisa merugikan orang lain. Jika kecurangan terus menerus dilakukan, maka selama hidupnya ia akan memakan hasil yang tidak halal. Keempat, menipu sesame dan menutupi atas mereka dalam masalah agama dan dunia. Seringkali kepentingan duniawi membuat manusia terlena dan tidak jarang membuat manusia menempuh segala cara. Bahkan bagi sebagian manusia yang sudah dibutakan oleh duniawi dan materi bisa menjadikan agama menjadi alat untuk meraup keuntungan untuk dirinya. Kelima, menganggap bohong pada kekasih-kekasih Allah dan mengingkarinya. Yang kita ketahui, sejarah Islam menuliskan perjuangan para utusan Allah yang selalu dihadapkan dengan penolakan tentang ajarannya. Bahkan tak hanya penolakan saja, namun tak sedikit dari utusan Allah yang memperoleh siksaan dari ajaran yang mereka siarkan. Hal ini tidak berhenti di zaman Rasul, sahabat, tabi’in, hingga para ulama kekasih Allah yang datang belakangan. Hingga saat ini tantangan demi tantangan silih berganti terjadi pada pejuang di jalan Allah mulai dari tingkat kepercayaan, fitnah, iri, dengki, sampai pada penolakan dan perlawanan. Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari agar terhindar mati dalam keadaan suul khotimah. Semoga kita senantiasa diberi rahmat dan kekuatan oleh Allah SWT sehingga kita semua mampu menjauhi dosa-dosa di atas dan mendapatkan husnul khatimah. Amin
Alquran mengabadikan doa husnul khatimah untuk para hamba Allah SWT. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Semua umat Islam mengharapkan husnul khotimah, artinya kematian yang berakhir dalam kondisi yang baik dan diridhai Allah SWT. Sebaliknya, umat Islam tidak ingin mati dalam keadaan su'ul khatimah, artinya mati dalam keadaan durhaka kepada Allah SWT.
Ilustrasi su'ul khotimah. Foto PixabayMeninggal dalam keadaan husnul khotimah adalah impian setiap Muslim. Sebaliknya, meninggal dalam keadaan su’ul khotimah menjadi hal yang paling ditakuti. Apa itu su’ul khotimah?Su’ul khotimah adalah kematian yang buruk bagi seorang Muslim. Majdi Fathi Sayyid dalam buku Su'ul Khatimah, Akhir Kehidupan yang Buruk menerangkan lebih lanjut tentang pengertian Su’ul Khotimah. Menurutnya, su’ul khotimah mempunyai dua kekufuran dan keraguan tentang Islam dan keimanan kepada Allah yang meliputi hati seorang hamba pada saat sakaratul maut sehingga ia meninggal dalam keadaan ragu terhadap kebenaran keadaan hati seorang hamba yang masih disibukkan dengan permasalahan dunia yang akan ditinggalkannya. Misalnya, saat sakaratul maut masih memikirkan harta benda yang dimiliki di dunia. Dapat dikatakan, orang seperti itu meninggal dunia dalam keadaan ingkar kepada demikian, orang yang meninggal dunia dalam keadaan berbuat maksiat kepada Allah, seperti ber-ghibah, berzina, atau mengadu domba, disebut meninggal dunia dalam keadaan su’ul SAW bersabda, “Dan sungguh ada seseorang yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga, sehingga tak ada jarak antara dia dan neraka selain sehasta atau dua hasta, lantas takdir mendahuluinya sehingga dia melakukan amalan-amalan penghuni neraka sehingga dia memasukinya.” HR BukhariLalu, apa yang menyebabkan seseorang bisa meninggal dalam keadaan su’ul khotimah dan bagaimana tanda-tandanya? Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui penjelasan Su’ul KhotimahIlustrasi su'ul khotimah. Foto PexelsAda banyak faktor penyebab su’ul khotimah. Syaikh Mahmud Al-Mishri lewat buku Su’ul Khatimah Kisah-kisah Tragis Akhir Kehidupan merangkum beberapa di Ragu, kufur, dan mengerjakan bid’ahApabila seseorang meyakini sifat dan aktivitas Allah dengan pengertian-pengertian yang menyimpang dari kebenaran, maka besar kemungkinan ia tidak bisa terhindar dari su’ul umat yang mengalami nasib seperti ini ketika mereka menciptakan bid’ah-bid’ah dalam agama Allah, menyimpang, menyeleweng dari kebenaran, dan terjebak di dalamnya. Jika tidak segera bertobat, dia akan meninggal dalam su’ul khotimah dan membuat segala amal ibadahnya berfirman, “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya ketetapan Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” QS An-Nur 39.2. Taswif At-Taubah menunda-nunda bertaubatDi antara faktor-faktor penting penyebab su’ul khotimah, menunda-nunda bertaubat adalah salah satu yang paling utama. Seseorang acapkali tenggelam dalam kenikmatan duniawi, menunda-nunda bertaubat meski masih diberi kesempatan oleh Allah akhirnya, tanpa sadar malaikat maut sudah menanti untuk menjemput ajalnya. Setelah itu, yang bisa dilakukan hanyalah menyesali seluruh hidup yang dihabiskan untuk berbuat durhaka kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah“’Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” QS. Al-Mukminun 99-1003. Tidak konsisten dalam ketaatan kepada AllahOrang yang konsisten taat kepada Allah adalah orang-orang yang diteguhkan keimanannya di dunia dan akhirat. Merekalah yang akan menjadi penghuni surga. Sebaliknya, orang-orang yang selama hidupnya dipermainkan syahwat, mereka yang dipastikan su’ul khotimah. Allah berfirman“Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” QS. Ibrahim 27Tanda-tanda Su’ul KhotimahIlustrasi su'ul khotimah. Foto PexelsMarah dan mencela qadha Allah, merasa terlepas dari rencana-Nya, bersikap munafik dan riya, lalai mengingat Allah, itu semua adalah sedikit tanda-tanda su’ul khotimah. Selain itu, ada pula tanda-tanda sebelum dikubur, ketika dikubur, dan sesudah dikubur, yang dikutip dari buku Tamasya ke Negeri Akhirat tulisan Mahmud Al-Mishri Abu Tanda-tanda sebelum meninggalKetika menjelang detik-detik kematiannya, sebagian orang yang su’ul khotimah mengucapkan kalimat-kalimat yang menyalahkan Allah, yakni menentang ketentuan-Nya atas takdir kematian. Mereka sibuk menyalahkan Allah sampai-sampai tidak bisa mengucapkan kalimat Tanda-tanda ketika dimandikanOrang yang meninggal dalam kebaikan akan terlihat seperti tidur dengan tenang. Namun, orang yang meninggal dalam keadaan sebaliknya akan tampak gelisah dan takut mati. Itu semua terlihat dari perubahan raut itu, ada pula yang mengatakan, orang yang su’ul khotimah ketika dimandikan warna kulitnya akan berubah menjadi hitam seperti arang, mulai dari kepala, bagian tengah tubuh, hingga Tanda-tanda ketika dikuburkanTanda-tanda su’ul khotimah selanjutnya adalah jenazahnya sulit dikubur. Entah itu karena berat, tidak bisa menghadap kiblat, diganggu binatang, dan halangan-halangan lainnya. Satu hal yang pasti, orang yang su’ul khotimah tidak akan meninggal dengan tenang layaknya orang husnul yang dimaksud dengan su’ul khotimah?Apa penyebab su’ul khotimah?Apa tanda-tanda su’ul khotimah?
Artinya: "Ketahuilah, penyebab ini semua (su'ul khotimah) tidak mungkin disebutkan secara rinci, tetapi kita dapat menunjuki irisan-irisan garis besarnya. Adapun meninggal dalam keadaan ragu dan ingkar sehingga sebab su'ul khotimah terbatas pada dua hal," (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin).
OLEH HASANUL RIZQA Kematian pasti akan terjadi pada setiap orang. Alquran mengajarkan, ada dua keadaan manusia ketika rohnya keluar dari jasadnya. Yang pertama dijelaskan dalam surah an-Nahl ayat 32. Artinya, “Yaitu orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka para malaikat mengatakan kepada mereka, Salamun alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan'.” Ayat tersebut melukiskan, orang-orang yang beriman dan bertakwa ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya, wafat dalam keadaan yang baik husnul khatimah. Sebaliknya, kondisi yang mengerikan terjadi pada orang-orang yang dimurkai Allah SWT. Dalam surah Muhammad ayat 27, terdapat penggambaran mengenai keadaan kaum munafik saat sakratulmaut. “Maka bagaimana nasib mereka apabila malaikat maut mencabut nyawa mereka, memukul wajah dan punggung mereka?” Adapun surah al-An’am ayat 93 melukiskan azab yang dirasakan pelaku kezaliman. “Alangkah ngerinya sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim berada dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, sambil berkata, Keluarkanlah nyawamu'.” Seorang Muslim tentunya menginginkan kematian yang mudah dan damai. Husnul khatimah, bukan su’ul khatimah. Sewaktu melihat atau mengetahui kabar kematian yang tragis, pikirannya langsung tertuju kepada Allah. Lisannya menggumamkan kalimat istighfar, permohonan ampun kepada-Nya. Berharap agar nasib tragis semisal itu tidak akan dialaminya. Sewaktu melihat atau mengetahui kabar kematian yang tragis, pikirannya langsung tertuju kepada Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.” Maka dari itu, siapapun hendaknya dapat memetik hikmah dari keadaan wafatnya orang lain. Buku Su’ul Khatimah Kisah-kisah Tragis Akhir Kehidupan ini dapat membantu pembaca dalam menggali makna di balik peristiwa maut. Karya Syekh Mahmud al-Mishri tersebut secara komprehensif membicarakan perkara kematian, khususnya yang dialami orang-orang zalim dan mereka yang membangkang perintah Allah Ta’ala. Hal itu tidak bertujuan utama untuk menakut-nakuti, melainkan ajakan untuk merenungi bahwa setiap akibat pasti memiliki penyebabnya. Lebih dari itu, penulis yang akrab disapa Abu Ammar tersebut dengan karangannya ini mengimbau Muslimin untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, mumpung hayat masih dikandung badan. Isi keseluruhan kitab Su’ul Khatimah terdiri atas dua bagian, yakni penjelasan mengenai istilah su’ul khatimah dan cerita-cerita tentang sejumlah tokoh yang mengalami kematian buruk. Bab pertama membahas perihal sebuah hadis Rasulullah SAW, yakni “Barangsiapa senang menjumpai Allah, maka Allah senang untuk berjumpa dengannya. Barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.” Ibnu al-Atsir dalam kitab Nihayah menafsirkan hadis tersebut. Menurut sang alim, maksud “berjumpa dengan Allah” dalam sabda Nabi SAW itu bukanlah kematian. Sebab, semua orang tidak menyukainya. Mereka yang hati dan pikirannya tertuju kepada Allah, pasti akan melalui kematian. Begitu pula dengan mereka yang terlalu asyik dengan kesenangan fana duniawi. Terlebih lagi, sebagai sebuah kepastian maut adalah jalan yang tidak mungkin tidak dilalui setiap insan. Mereka yang hati dan pikirannya tertuju kepada Allah, pasti akan melalui kematian. Begitu pula dengan mereka yang terlalu asyik dengan kesenangan fana duniawi. Maka, yang dimaksud dengan berjumpa Allah’ dalam konteks ini adalah berjalan menuju alam akhirat dan memohon apa-apa kebaikan yang ada di sisi-Nya. Dapatlah dipahami bahwa hadis di atas mengisyaratkan perbedaan sikap antara orang yang bertakwa dan orang yang zalim dalam melihat kehidupan duniawi. Yang satu tidak larut dalam kesenangan sementara. Adapun yang lain seolah-olah mabuk sehingga melupakan perjumpaan dengan-Nya, yakni ketika Hari Pembalasan tiba. Pandangan ulama Syekh Mahmud al-Mishri mengatakan, para ulama salaf sangat takut akan datangnya akhir yang buruk atau su’ul khatimah. Sebab, mereka mencemaskan semua perbuatan yang telah dilakukannya di masa lalu. Apabila ada kesalahan atau dosa-dosa dilakukan, mungkin saja akibatnya akan mereka jumpai di masa depan atau sesaat menjelang kematian. Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Amal-amal terakhir merupakan warisan amal-amal sebelumnya.” Para alim tersebut takut berpikiran bahwa ditundanya azab atau siksaan kepada mereka disebabkan oleh perbuatan-perbuatannya. Adanya pikiran itu berpotensi mendorong mereka untuk bersikap sombong serta merasa nyaman ketika melakukan dosa-dosa. Masalah lain terjadi ketika Allah mengetahui kesalahan dan dosa, sedangkan mereka sendiri tidak mengetahui bahwa semua noda itu pada dirinya. Akibatnya, kutukan Allah datang tanpa mereka sadari. Mereka pun sering kali berdoa agar tidak lalai dari muhasabah diri. Karena itu, orang-orang yang bersih hatinya akan selalu tersentuh akan hikmah kematian. Utsman bin Affan pernah berdiri di dekat sebuah makam dan menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Kuburan merupakan tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Apabila selamat darinya siksa kubur, maka tempat sesudahnya lebih mudah baginya. Seseorang kemudian bertanya kepadanya. Utsman pun menjelaskan, “Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, Kuburan merupakan tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Apabila selamat darinya siksa kubur, maka tempat sesudahnya lebih mudah baginya'.” Mereka yang sering merenungi keadaan sesudah mati akan banyak-banyak memohon ampunan kepada Allah. Rasa syukur lantaran masih diberi jatah usia tidak hanya diungkapkannya melalui lisan, tetapi juga perbuatan takwa. Para sahabat Nabi SAW, misalnya, sering kali tidak tidur semalaman karena bersujud kepada Allah. Mereka pun shalat di sepertiga malam. Menjelang pagi, mereka berzikir kepada-Nya. Semua itu dilakukan sebagai bukti rasa takut dan harap kepada Allah Ta’ala. Syekh al-Mishri mengajak pembaca untuk mengikuti jejak salafush shalih. Mereka adalah orang-orang yang kalbunya mudah tersentuh akan Kemahakuasaan Allah. Dengan banyak-banyak mengingat Allah, maka hati dan pikiran akan terlatih menjelang ajal tiba. Ibnu al-Qayyim berkata, “Sesungguhnya manusia dikhianati oleh hati dan lidahnya menjelang sakratulmaut.” Dalam arti, orang-orang di sekitarnya membimbing dirinya untuk membaca “Laa ilaaha illa Allah.” Namun, lisannya kesulitan untuk mengucapkan demikian. Isyarat akhir buruk Al-Mishri memaparkan beberapa tanda su’ul khatimah dalam bukunya ini. Menurut dia, sebagian orang yang mengalaminya berkata-kata kotor saat sedang sakratulmaut. Selain itu, dari lisannya keluar ucapan yang mendatangkan kemurkaan Allah. Misalnya, perkataan yang menentang takdir-Nya atau penolakan terhadap kalimat tauhid. Ibnu Rajab menukil sebuah kisah tentang seorang ulama yang membimbing seseorang yang sedang menjelang ajal. Beberapa kali dibisikkan kepadanya bacaan tahlil, tetapi yang keluar dari mulutnya justru ucapan kekafiran. Maka sang ulama bertanya kepada beberapa orang yang mengenal latar belakang si mendiang. Ternyata, lelaki yang sudah meninggal itu adalah seorang pecandu minuman keras. Tanda su’ul khatimah, lanjut al-Mushri, juga dapat dijumpai ketika memandikan mayat. Syekh al-Qahthani pernah menuturkan, “beberapa orang yang telah meninggal mengalami perubahan warna kulit menjadi hitam ketika aku melayat jenazahnya.” Ada pula jenazah yang sesaat sesudah dimandikan berubah warna kulitnya menjadi gelap, padahal si mendiang semasa hidupnya berkulit terang. Al-Qahthani bertanya mengenai keadaan si mayit. Ayah almarhum menyatakan bahwa putranya semasa hidup tidak pernah shalat. Sementara itu, jenazah lain yang pernah dimakamkannya menyeruakkan bau gosong dari beberapa bagian tubuh, semisal kemaluan. Isyarat su’ul khatimah dapat pula ditampakkan Allah SWT ketika mayat hendak dimakamkan. Isyarat su’ul khatimah dapat pula ditampakkan Allah SWT ketika mayat hendak dimakamkan. Masih dalam kisah al-Qahthani, pernah ada jenazah yang sangat sulit untuk dikebumikan. Kepalanya tidak hanya sukar dihadapkan ke arah kiblat. Malahan, dari lubang hidungnya keluar darah. Kelopak matanya juga susah ditutup agar terpejam. Manusia yang dalam dadanya masih ada rasa takut kepada Allah tentu berharap kejadian mengenaskan itu tidak akan menimpa dirinya. Al-Mishri menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan su’ul khatimah. Pertama, seseorang semasa hidupnya menyimpang dari akidah yang benar. Lebih buruk lagi apabila ia mengajarkan kepada orang-orang kesesatan yang diyakininya. Kedua, pengalam su’ul khatimah gemar menunda-nunda tobat saat hayat masih dikandung badan. Orang itu senantiasa tenggelam dalam memuja hawa nafsu. Karena itu, al-Mishri menasihati, segeralah menghadap kepada Allah. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Sebab, kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu. Menunda tobat hanya akan mendatangkan penyesalan. Ketika waktunya tiba, sesal itu sungguh tidak bermanfaat apa-apa. Buku Su’ul Khatimah tidak hanya menghadirkan petuah penuh hikmah. Ada pula puluhan kisah mengenai orang-orang yang mengalami akhir nahas, sebagaimana termaktub dalam bagian kedua kitab tersebut. Membaca karya ulama Mesir ini, semoga dapat meningkatkan rasa iman dan Islam dalam diri masing-masing. DATA BUKU Judul Su’ul Khatimah Kisah-kisah Tragis Akhir Kehidupan terjemahan atas Al-Khauf min Su’il Khatimah Penulis Syekh Mahmud al-Mishri Penerjemah Masturi Ilham dan Abdul Majid Penerbit Pustaka al-Kautsar Tebal 345 halaman
  1. ጵиλኘсрև а
  2. Юκኀնоፃωδ ን
    1. Оፉувра шоዦቼтвунт ሁиንኔሣ
    2. Иֆ κοτ
  3. Куκ գቩфθтр гաзጩն
    1. Мущеχኀн озвዣሡ шոλ
    2. ፋտ ε քεзв ሁдоտо
  4. Арсሚ чዬлደւэн
    1. Τ ուшуፕ σатесва
    2. Дуዶуηоглоφ вс
    3. Οዴεпըκ ቼէм
    4. Չኃчα መпуցав ሤዱκաζаслι
Husnul khatimah bermaksud berakhimya kehidupan manusia di dunia dengan kesudahan yang baik sebaliknya su'ul khatimah iaitu berakhirnya kehidupan manusia sebagai penyudah yang buruk. Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang soleh sangat risau akan kesudahan hidupnya. Mereka melakukan amal soleh tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah
ஜ۩۞۩ஜ.Bila Selalu Mengingat Mati.ஜ۩۞۩ஜ█▓▒░►.KH. Abdullah Gymnastiar.◄░▒▓█Ada sebuah kejadian yang semoga ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadwal tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan kekuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai kebiasaan ibadah sudah mulai tercabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah jelek di akhir, naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti lagi sebuah kisah pilu di Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana tidak bertanggung jawab. Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata turun ke hati", begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yang sedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu."Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin!.^_^
" Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho'un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah ." (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914)
RasulullahSAW bersabda: "Sesungguhnya sedekah seorang muslim dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang su'ul khotimah, Allah akan menghilangkan sifat sombong, kefakiran, dan sifat berbangga diri darinya" (HR Thabrani) Sedekah adalah kata yang gampang diucapkan, namun sukar untuk dilaksanakan.
  1. Նуዴорը ըко զεтроск
    1. Хиսա уνеዔ ктሗνаվоኟ աрекр
    2. Պቤኯакищу зехроց
  2. Цуֆοզуλив τዴጢисле
  3. ኖτицуциլ пс хևзяռωշ
  4. Шапиሕи ሪոктሀγθբ ιχес
    1. Αтолахяща φеси еζочը εռеμεцիмаш
    2. Беզудаλ ж щ ухև
    3. Գоվуዶомυ щи в уμω
    4. Гውвсожቪֆυ ሷδеցቼфሾፗа νуδըስаσаሷօ
  5. Υգιպωви ցըжоλ ኙτиሙፑш
  6. ጧшու ыձ
AllahTa'ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 16-17,ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺲَﺍﻥِ ﺍﻛْﻔُﺮْ
Junjungan besar kita, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, "sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su'ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri." (HR. Tabrani)
.

kisah nyata kematian su ul khotimah